CIREBON — Yayasan Edukasi Bangsa Unggul (EBU) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman dan berkarakter melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis Anti Perundungan (Anti-Bullying) dan Kekerasan terhadap Anak. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mendorong satuan pendidikan menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan serta menjunjung tinggi nilai empati dan penghormatan terhadap sesama.
Bimtek dilaksanakan secara blended, yakni luring pada 13 Februari 2026 di Hotel Prima Cirebon dan dilanjutkan secara daring pada 14 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan serta perwakilan peserta didik dari Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, dan Kabupaten Kuningan.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas sekolah dalam mengenali, mencegah, serta menangani kasus perundungan dan kekerasan terhadap anak secara sistematis dan berkelanjutan. Selain aspek regulatif dan kebijakan sekolah, bimtek juga menekankan pendekatan edukatif dan partisipatif yang melibatkan siswa sebagai agen perubahan.
Ketua Yayasan Edukasi Bangsa Unggul, Dr. Rahmat Fadhli, Ed.M, dalam sambutannya menegaskan bahwa salah satu tantangan serius dalam dunia pendidikan saat ini adalah praktik perundungan yang masih terjadi di lingkungan sekolah.
“Bullying merupakan persoalan nyata yang tidak boleh dianggap sepele. Sekolah harus menjadi ruang aman bagi setiap anak untuk tumbuh, belajar, dan berkembang tanpa rasa takut,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan siswa dalam gerakan pencegahan perundungan. Menurutnya, siswa yang hadir dalam kegiatan ini diharapkan mampu mendefinisikan kembali pemahaman tentang anti-perundungan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
“Kami ingin para siswa yang hadir tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga menjadi duta anti-bullying di sekolah masing-masing. Mari bersama-sama berkomitmen untuk mengatakan say no to bullying. Tidak boleh ada lagi anak yang menjadi korban perundungan,” tegasnya.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan materi mengenai definisi dan bentuk-bentuk perundungan, dampak psikologis dan sosial bagi korban, strategi pencegahan berbasis sekolah, serta penguatan budaya positif dan empati di lingkungan pendidikan.
Melalui penyelenggaraan Bimtek Anti Perundungan dan Kekerasan terhadap Anak ini, Yayasan Edukasi Bangsa Unggul menegaskan perannya sebagai mitra strategis dalam penguatan karakter dan perlindungan anak di lingkungan pendidikan.
Diharapkan, kegiatan ini mampu melahirkan komitmen nyata dari setiap sekolah untuk menciptakan budaya saling menghormati, peduli, dan bertanggung jawab, sehingga tidak ada lagi peserta didik yang menjadi korban perundungan. Sekolah harus menjadi ruang yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

